Programmer dan Delphi
Bagi seorang programmer sejati, kenikmatan itu berarti menulis baris demi baris kode, meng-compile, melihat hasil, debugging, tambah baris syntax di sana hapus baris syntax di sini, compile ulang, (kadang) garuk-garuk kepala, (sering) lupa mandi....terus dan terus.....
Programmer sejati juga tidak mengharamkan bahasa pemrograman yang satu dan menghalalkan lainnya, programmer sejati...semua bahasa pemrograman dilahap! (kenyataannya semua bahasa pemrograman itu perkara baris kode). Tapi, untuk urusan pilihan nah...programmer juga manusia yang lebih menyukai satu daripada lainnya. Sah-sah saja sih, ada yang fanatik juga boleh2 saja. Fanatisme dalam pemrograman itu resikonya gak sebesar fanatisme golongan. Biasanya seorang programmer memiliki senjata pamungkas yang bisa dipakai setiap saat dibutuhkan, paling tidak untuk urusan kapitalisme alias urusan perut.
Yang terlahir di Era Orde Baru mesti akrab dengan pemrograman berbasis windows. Wajar, karena di era ini internet baru sampai Australia dan belum di gotong sama Pak Onno W Purbo dkk masuk ke negeri tercinta ini. Salah satu yang patut diperhitungkan pada masa itu adalah Borland Delphi (saat ini berubah menjadi Embarcadero Delphi). Melanjutkan kegemilangan bahasa pemrograman Pascal (versi DOS) dia hadir dalam versi visual.
Database Connection
Delphi, seperti halnya bahasa pemrograman secara umum adalah compiler yang bisa digunakan untuk menghasilkan karya sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kemampuan programmer. Artinya, ia seperti sebuah pisau yang kegunaannya bermacam-macam sesuai dengan kehendak si pemakai. Salah satu fungsi delphi yang sering (selalu) saya gunakan adalah sebagai compiler untuk menghasilkan software-software berbasis data. Misal: software toko (Point of Sales), pengelolaan data rumah sakit (SIMRS) atau Software Accounting. Ketika berbicara Delphi untuk pemrograman basis data maka ada dua komponen penting yang harus dipahami yakni: database server dan database connection.
Database Connection dengan Zeos
Alkisah, dalam perbincangan ringan di siang terik di sebuah toko komputer dengan seorang programmer, saya menemukan bahwa ada sebuah database connection yang memberikan alternatif yang menjanjikan kesederhanaan (paling tidak itu kata teman programmer yang baru saya temui dan sayangnya saya lupa namanya-akh..yang penting buat programmer bukanlah nama tapi baris kode wkwkwk), karena sebelum bertemu dengan si teman tadi, bergulat dengan ADO Connection -nya Microsoft. Entah karena saya newbie atau ADO-nya memang setipe dengan abg yang labil. alhasil, jadinya malah stress! Sering terjadi inkonsistensi data, lock unlock issue di recordset de-el-el, terutama pada query yang kompleks. Nah, saya coba download Zeos di sini dan otak-atik. Ternyata, memang benar-benar lebih asyik, lebih straight forward gak basa-basi. Dan belakangan malah meluncur dengan lancar di lingkungan linux. Wah, uenak tennannn sekali nulis kode langsung jalan di Windows en linux. So, buat teman-teman yang belum mencicipi, monggo dicoba Zeos-nya.
Bagi seorang programmer sejati, kenikmatan itu berarti menulis baris demi baris kode, meng-compile, melihat hasil, debugging, tambah baris syntax di sana hapus baris syntax di sini, compile ulang, (kadang) garuk-garuk kepala, (sering) lupa mandi....terus dan terus.....
Programmer sejati juga tidak mengharamkan bahasa pemrograman yang satu dan menghalalkan lainnya, programmer sejati...semua bahasa pemrograman dilahap! (kenyataannya semua bahasa pemrograman itu perkara baris kode). Tapi, untuk urusan pilihan nah...programmer juga manusia yang lebih menyukai satu daripada lainnya. Sah-sah saja sih, ada yang fanatik juga boleh2 saja. Fanatisme dalam pemrograman itu resikonya gak sebesar fanatisme golongan. Biasanya seorang programmer memiliki senjata pamungkas yang bisa dipakai setiap saat dibutuhkan, paling tidak untuk urusan kapitalisme alias urusan perut.
Yang terlahir di Era Orde Baru mesti akrab dengan pemrograman berbasis windows. Wajar, karena di era ini internet baru sampai Australia dan belum di gotong sama Pak Onno W Purbo dkk masuk ke negeri tercinta ini. Salah satu yang patut diperhitungkan pada masa itu adalah Borland Delphi (saat ini berubah menjadi Embarcadero Delphi). Melanjutkan kegemilangan bahasa pemrograman Pascal (versi DOS) dia hadir dalam versi visual.
Database Connection
Delphi, seperti halnya bahasa pemrograman secara umum adalah compiler yang bisa digunakan untuk menghasilkan karya sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kemampuan programmer. Artinya, ia seperti sebuah pisau yang kegunaannya bermacam-macam sesuai dengan kehendak si pemakai. Salah satu fungsi delphi yang sering (selalu) saya gunakan adalah sebagai compiler untuk menghasilkan software-software berbasis data. Misal: software toko (Point of Sales), pengelolaan data rumah sakit (SIMRS) atau Software Accounting. Ketika berbicara Delphi untuk pemrograman basis data maka ada dua komponen penting yang harus dipahami yakni: database server dan database connection.
Database Connection dengan Zeos
Alkisah, dalam perbincangan ringan di siang terik di sebuah toko komputer dengan seorang programmer, saya menemukan bahwa ada sebuah database connection yang memberikan alternatif yang menjanjikan kesederhanaan (paling tidak itu kata teman programmer yang baru saya temui dan sayangnya saya lupa namanya-akh..yang penting buat programmer bukanlah nama tapi baris kode wkwkwk), karena sebelum bertemu dengan si teman tadi, bergulat dengan ADO Connection -nya Microsoft. Entah karena saya newbie atau ADO-nya memang setipe dengan abg yang labil. alhasil, jadinya malah stress! Sering terjadi inkonsistensi data, lock unlock issue di recordset de-el-el, terutama pada query yang kompleks. Nah, saya coba download Zeos di sini dan otak-atik. Ternyata, memang benar-benar lebih asyik, lebih straight forward gak basa-basi. Dan belakangan malah meluncur dengan lancar di lingkungan linux. Wah, uenak tennannn sekali nulis kode langsung jalan di Windows en linux. So, buat teman-teman yang belum mencicipi, monggo dicoba Zeos-nya.
makasih infonya
BalasHapusur welcome :)
Hapus